MALANGPOINT.COM | MALANG — Dunia musik bagi Hariust Agung bukan sekadar panggung untuk tampil. Musik telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil, tumbuh dari keluarga yang memiliki darah seni sekaligus tradisi panjang dalam bermusik.
Hariust mengenal instrumen musik sejak usia dini. Lingkungan keluarganya lekat dengan seni tradisional, termasuk pembuatan alat musik kulintang dan angklung. Aktivitas bermusik juga hadir melalui permainan band keroncong hingga band di lingkungan instansi.
Memasuki masa remaja, kecintaannya terhadap musik semakin berkembang. Ia aktif dalam paduan suara sekolah dan operet. Pada era 1990-an, gitar pertama yang dibelikan sang ibu menjadi titik penting dalam perjalanan musikalnya. Dari sang ibu pula Hariust mulai mengenal dasar teori dan permainan gitar.
Berbagai karya Koes Plus, God Bless, Bee Gees hingga Chrisye menjadi bagian dari referensi musik yang membentuk selera bermusiknya.
Saat SMA, Hariust sempat menjadi vokalis sebelum kemudian beralih memainkan bass. Lagu-lagu rock dari Jamrud, Boomerang, Voodoo hingga Power Metal menjadi materi yang kerap dibawakannya bersama band.
Namun, perjalanan itu tidak berhenti di panggung band. Ketertarikannya terhadap permainan gitar semakin kuat ketika ia mulai mengenal komposisi-komposisi yang lebih kompleks. Hariust kemudian serius mendalami electric guitar, terutama permainan lead dan teknik shred.
Radio-radio di Malang dan Surabaya, seperti Wijaya FM dan Suzanna, turut menjadi salah satu sumber referensinya dalam mengenal lebih banyak karya gitaris dan band dunia.
Nama-nama seperti Yngwie Malmsteen, Dream Theater, Joe Satriani, Steve Vai, Helloween hingga Edane menjadi bagian dari referensi musikalnya.
Dari sekian banyak gitaris, Yngwie Malmsteen dan Edane menjadi dua pengaruh paling kuat terhadap karakter permainan Hariust yang dikenal cepat, agresif dan sarat teknik.
Memasuki era 2000-an, Hariust aktif mengikuti berbagai kompetisi band tingkat Jawa-Bali. Dari sejumlah kompetisi tersebut, ia berhasil meraih beberapa penghargaan, termasuk kategori The Best Bass dan The Best Guitar.
Namun bagi Hariust, pencapaian tersebut bukanlah tujuan akhir.
Sejak sekitar 2005, ia mulai lebih serius menggarap karya instrumental. Salah satu ciri khas yang dibangun adalah mengaransemen lagu-lagu nasional dan daerah Indonesia ke dalam format rock dan orchestral electric guitar.
Sejumlah lagu seperti Syukur, Bendera, Tanah Airku, 17 Agustus dan Yamko Rambe Yamko diolah dengan pendekatan musikal yang berbeda, memadukan karakter gitar rock dengan nuansa orkestrasi.
Dalam waktu dekat, Hariust juga tengah mempersiapkan album instrumental electric guitar orchestra yang secara khusus mengangkat lagu-lagu nasional Indonesia. Di luar proyek tersebut, sejumlah karya pop ciptaannya juga tengah disiapkan untuk dirilis.
Tidak hanya berkarya sebagai musisi, Hariust juga mengambil peran dalam membangun ekosistem gitaris di Malang.
Pada 2012, bersama sejumlah gitaris dan pelaku industri musik, termasuk gitaris sekaligus pemilik Majalah Gitar Plus serta penggagas event Gitaran Sore, ia turut menginisiasi berdirinya MAGIC (Malang Guitar Community).
Komunitas tersebut menjadi salah satu wadah bagi para gitaris Malang untuk bertemu, berbagi pengetahuan dan terlibat dalam berbagai perhelatan musik.
Semangat membangun generasi baru kemudian semakin kuat sejak 2015. Hariust aktif melatih dan mendorong lahirnya gitaris-gitaris muda melalui Malang Bergitar, komunitas yang ia dirikan.
Dari komunitas tersebut, sejumlah gitaris muda mendapat ruang untuk belajar, tampil dan menciptakan karya. Beberapa nama yang kemudian ikut mewarnai skena gitar Malang antara lain Yasha Andriano, Oka, Gisel, Joe dan sejumlah musisi muda lainnya.
Bagi Hariust, keberadaan komunitas bukan hanya soal berkumpul. Ada misi yang lebih besar, yakni membuka ruang bagi generasi muda untuk berani tampil, mengembangkan kemampuan sekaligus menghasilkan karya.
Di era digital, aktivitas Hariust semakin luas. Ia kini aktif sebagai musisi sekaligus content creator melalui YouTube, Instagram, Facebook dan TikTok dengan nama Joe Guitarian.
Konten yang dibuatnya banyak membahas gitar, mulai dari lesson, teknik permainan, tips hingga berbagai pengetahuan seputar instrumen.
Tidak berhenti di dunia konten, Hariust juga mengembangkan bisnis gitar dengan brand miliknya sendiri, HRS Guitar. Produk tersebut bahkan telah dipasarkan hingga ke luar negeri.
Di luar musik, aktivitas Hariust juga terbilang beragam. Ia dikenal sebagai pengajar musik, instruktur marching band, designer 3D arsitektural hingga konseptor wisata di sejumlah lokasi di Indonesia.
Hariust tengah memfokuskan diri membangun sebuah grup duo dengan konsep rock-pop industrial dan instrumental gitar. Meski konsep bermusiknya terus berkembang, karakter permainan speed, shred dan metal tetap menjadi identitas yang sulit dipisahkan dari dirinya.
Perjalanan Hariust Agung menunjukkan bahwa seorang musisi tidak hanya dibentuk oleh panggung dan kompetisi. Ia juga tumbuh dari lingkungan, proses belajar, keberanian bereksperimen, membangun komunitas dan konsistensi melahirkan karya.
Dari tradisi musik keluarga hingga gitar elektrik berkarakter shred, Hariust kini membawa satu misi: menjadikan gitar bukan sekadar alat musik, tetapi medium untuk memperkenalkan karya, membangun generasi dan mengangkat warna musik Indonesia ke panggung yang lebih luas. (cha/dd)















