M Force Band Bawa Napas Baru Rock Malang, Siap Gebrak Tribute Yngwie Malmsteen

  • Bagikan
M Force yang digawangi Unyep Wahyu Hermawan (gitar), Norman Duarte Tolle (bass), Cipenk Brotherhood (vokal), Sandy (keyboard), dan Ibra (drum).
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | KOTA MALANG — Skena musik rock Kota Malang kembali mendapat suntikan energi baru. M Force Band resmi terbentuk pada Agustus 2026, membawa perpaduan musisi berpengalaman dan talenta muda dalam satu formasi yang siap menghidupkan kembali karakter rock Malang.

Band yang lahir di tengah semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI ini digawangi Unyep Wahyu Hermawan (gitar), Norman Duarte Tolle (bass), Cipenk Brotherhood (vokal), Sandy (keyboard), dan Ibra (drum).

M Force bukan sekadar proyek musik baru. Band ini diinisiasi dua musisi yang telah lama malang-melintang di panggung musik Malang, Unyep dan Norman.

Keduanya ingin menghadirkan karya sekaligus ikut menjaga reputasi Malang yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu barometer musik rock di Indonesia.

Kekuatan M Force terletak pada karakter masing-masing personelnya.

Unyep Wahyu Hermawan menjadi salah satu motor musikal band. Gitaris yang dikenal memiliki karakter permainan bernuansa rock, metal hingga neoclassical ini kerap disebut memiliki warna permainan yang mengingatkan pada gitaris legendaris Yngwie Malmsteen.

Teknik picking, bending, trill, kecepatan serta permainan melodi menjadi kekuatan Unyep. Namun eksplorasinya tidak berhenti pada rock. Ia juga menggeluti gitar klasik, fusion jazz, musik Jepang hingga gitar akustik.

Sejak era 2000-an, Unyep telah menorehkan sejumlah prestasi, termasuk meraih juara kompetisi gitar Fender Day di Malang dan berbagai festival band. Ia juga merupakan founder Melanin yang pernah menembus panggung nasional serta aktif sebagai gitaris Arema Voice.

Tak hanya bermain, Unyep juga berkecimpung sebagai composer, songwriter, arranger hingga produksi rekaman. Ia bahkan pernah berkolaborasi dengan musisi nasional, salah satunya Edi Kemput, gitaris Grass Rock.

Di M Force, kiprah Unyep akan kembali mendapat panggung besar saat dipercaya menjadi gitaris utama dalam Tribute to Yngwie Malmsteen, 12 September 2026 di Anang Karaoke, Kota Malang.

Sejumlah karya Yngwie seperti Rising Force, Like an Angel dan Seventh Sign siap dibawakan.

Sementara itu, Norman Duarte Tolle membawa pengalaman panjang sekaligus warna musikal yang berbeda. Perjalanannya dimulai sejak menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya. Dari sana, Norman aktif membangun komunitas musik, gitar hingga berbagai event musik di Malang.

Ia pernah menjadi bagian dari C Four yang tampil dalam festival rock berskala nasional garapan Log Zhelebour. Pada era 2000-an, Norman juga meraih predikat The Best Guitarist Gudang Garam Festival Rock se-Indonesia.

Menariknya, di M Force Norman justru mengambil posisi sebagai bassist. Kemampuan sebagai songwriter, composer dan arranger membuatnya menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun aransemen sekaligus groove band.

Musikalitasnya banyak dipengaruhi gitaris dunia seperti Nuno Bettencourt, Eddie Van Halen, Tom Morello dan John Frusciante. Saat ini ia juga tergabung dalam band metal Vespherya dan aktif bersama Arema Voice.

Di luar musik, Norman dikenal sebagai penulis novel dengan ketertarikan pada genre klasik dan silat.

Pada lini depan, Cipenk Brotherhood menjadi suara utama M Force. Karakter vokalnya kuat dengan jangkauan nada yang lebar.

Ia mampu mengeksplorasi berbagai teknik vokal, mulai dari nada tinggi, growl, scream hingga karakter suara rendah. Pengalaman tampil bersama sejumlah band, termasuk Circle dan SOS, menjadi modal penting bagi Cipenk untuk mengemban peran sebagai frontman.

Sementara Sandy dipercaya mengisi keyboard. Sosoknya dikenal tenang dan cenderung pendiam, tetapi karakter berbeda muncul ketika berada di belakang instrumen.

Permainan keyboard Sandy dikenal musikal sekaligus teknikal. Kemampuannya membaca notasi dan tablature serta pengalamannya memainkan berbagai genre membuatnya menjadi elemen penting dalam membangun warna progressive dan neoclassical M Force.

Nama terakhir yang tak kalah menarik adalah Ibra. Masih duduk di kelas 1 SMA, ia menjadi personel termuda sekaligus simbol regenerasi di tubuh M Force.

Meski masih remaja, kemampuan drumnya telah membawanya mengikuti berbagai kompetisi tingkat regional hingga nasional. Ibra juga menempuh pendidikan musik di Purwacaraka Music Studio Malang.

Ia bahkan telah dipercaya tampil sebagai guest star, pembicara hingga pengisi coaching clinic dalam sejumlah kegiatan drum junior dan event drummer di Malang.

Kemampuannya memainkan materi progressive rock dan metal dengan tingkat kesulitan tinggi menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Kini, energi muda Ibra berpadu dengan pengalaman para musisi senior di M Force.

Perpaduan lintas generasi inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama band tersebut.

M Force Band akan membuktikan racikan musikal mereka dalam Tribute to Yngwie Malmsteen pada 12 September 2026 di Anang Karaoke, Kota Malang.

Bagi M Force, panggung tersebut bukan sekadar pertunjukan. Momentum itu menjadi langkah awal untuk menunjukkan bahwa denyut rock Malang belum berhenti.

Regenerasi, kolaborasi lintas generasi dan keberanian mengeksplorasi musik menjadi modal M Force untuk ikut meneruskan tradisi panjang Malang sebagai salah satu kota penting dalam peta musik rock Indonesia. (cha)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *