MALANGPOINT.COM | MALANG — Bahlil Mini Soccer yang digelar di Unggul Sport Center, Selasa (2/9/2026) sore, ditutup dengan pertandingan Friendly Match yang mempertemukan Tim Golkar Kota Malang dengan panitia, kemudian berlanjut melawan tim influencer Kota Malang.
Namun, laga penutup tersebut bukan sekadar pertandingan hiburan. Bagi Golkar Kota Malang, momentum itu menjadi ruang untuk membangun komunikasi yang lebih dekat dengan generasi muda, khususnya Gen Z dan para influencer.
Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang, Djoko Prihatin, menegaskan bahwa semangat kebersamaan menjadi pesan utama dari pertandingan tersebut.
Menurutnya, olahraga mampu menjadi medium yang efektif untuk mempertemukan partai politik dengan generasi muda dalam suasana yang lebih cair.
“Walaupun kita kalah, semangat kita luar biasa. Yang terpenting adalah bagaimana menyatukan generasi muda, Gen Z, para influencer dengan Partai Golkar Kota Malang,” ujar Djoko.
Ia menyebut langkah tersebut sejalan dengan gagasan bahwa Golkar harus mampu menjadi ruang terbuka bagi generasi muda untuk berkarya dan beraktivitas.
“Ini menjadi pintu gerbang kebersamaan kita. Golkar menjadi pintu gerbang partai politik untuk para Gen Z,” tegasnya.
Djoko bahkan memastikan pendekatan melalui olahraga tidak berhenti pada Bahlil Mini Soccer. Ia membuka peluang kegiatan serupa digelar secara rutin bersama komunitas Gen Z dan influencer.
“Insya Allah ke depan kita akan rutin. Paling tidak sebulan sekali kita akan bermain bersama para influencer dan Gen Z,” katanya.
Dukungan terhadap pola pendekatan tersebut juga datang dari influencer dan pembuat konten asal Malang Raya, Ridwan Adi. Menurutnya, kegiatan seperti mini soccer memberikan warna berbeda dalam upaya memperkenalkan politik kepada generasi muda.
Ridwan menilai Gen Z selama ini cenderung memiliki jarak dengan politik. Karena itu, pendekatan melalui aktivitas yang mereka minati dinilai lebih relevan dibandingkan sekadar komunikasi politik konvensional.
“Sebagai influencer, kalau Gen Z diperkenalkan dengan politik, apalagi dengan Partai Golkar, mungkin awalnya ada pertanyaan, ‘Gen Z di area politik, waduh bagaimana?’ Tapi dengan program-program seperti ini, mungkin sedikit berbeda,” ujarnya.
Menurut Ridwan, partai politik tidak harus selalu menggunakan pola kampanye konvensional dengan turun langsung ke desa-desa. Ruang olahraga dan komunitas anak muda justru dapat dikembangkan sebagai sarana membangun kedekatan.
“Mungkin ajang seperti ini bisa dikembangkan lagi. Entah mini soccer, bulu tangkis, atau olahraga lainnya. Yang penting ada pendekatan dengan Gen Z, supaya lebih dekat,” katanya.
Ridwan yang turut ambil bagian dalam pertandingan tersebut menilai pendekatan berbasis aktivitas dan komunitas memiliki potensi untuk membangun hubungan yang lebih natural antara anak muda dan partai politik.
Ia juga berseloroh soal performanya dalam laga tersebut. “Saya selaku top skor,” ujarnya sambil tersenyum.
Pandangan serupa disampaikan Fabria Satria Pambudi, pembuat konten dari Malang Raya yang mengelola akun @Kuliner Satu Menit. Ia mengapresiasi ruang yang diberikan kepada Gen Z untuk berkreativitas dan berkarya bersama.
“Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena kami para Gen Z diwadahi untuk berkreativitas dan berkarya bersama. Kami sangat senang, dan semoga ke depannya ini bisa menjadi gerbang menuju aktivitas yang lebih bermanfaat dan lebih sehat,” ujar Fabrice.
Bagi Golkar Kota Malang, Bahlil Mini Soccer akhirnya tidak hanya menghasilkan pertandingan dan kompetisi. Momentum tersebut sekaligus menjadi eksperimen pendekatan politik yang menyasar generasi muda melalui olahraga, kreativitas, dan komunitas.
Pesannya sederhana: mendekati Gen Z tidak selalu harus melalui panggung politik. Bisa dimulai dari lapangan olahraga, membangun pertemanan, lalu membuka ruang kolaborasi. (cha)















