MALANGPOINT.COM | Festival Mbois memasuki babak baru. Memasuki penyelenggaraan ke-11, agenda ekonomi kreatif yang lahir dari kolaborasi komunitas dan Pemerintah Kota Malang itu tidak lagi sekadar menjadi festival tahunan, melainkan diproyeksikan sebagai panggung nasional yang mengawinkan sejarah, olahraga, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan pemuda.
Mengusung tema “Malang Menyala”, Festival Mbois 11 membawa semangat baru untuk membangkitkan kreativitas, memperkuat kolaborasi lintas sektor, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Tema tersebut menjadi simbol optimisme bahwa Kota Malang mampu terus melahirkan inovasi dan karya kreatif yang berdampak bagi masyarakat.
Tahun ini, Festival Mbois 11 dijadwalkan berlangsung pada 21-23 Agustus 2026 di Stadion Gajayana, Kota Malang. Pemilihan lokasi bukan tanpa alasan. Stadion kebanggaan warga Malang itu tepat berusia 100 tahun dan menyandang predikat sebagai stadion tertua di Indonesia yang masih digunakan hingga kini.
Koordinator Malang Creative Fusion (MCF) sekaligus Ketua Harian Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Vicky Arief Herinadhrama, dalam kegiatan Maklumat Media di Malang Creative Center (MCC), Selasa (21/7/2026) malam, mengatakan perjalanan Festival Mbois selama 11 tahun selalu diarahkan untuk memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif.
Menurutnya, Festival Mbois telah berpindah dari satu ruang publik ke ruang publik lainnya, mulai dari Alun-Alun Kota Malang, kawasan Kayutangan Heritage, hingga empat tahun terakhir di Malang Creative Center (MCC).
“Festival Mbois bukan sekadar berpindah lokasi. Yang kami bangun adalah dampaknya. Setiap penyelenggaraan harus mampu menggerakkan ekonomi kreatif, mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” ujar Vicky.
Ia menambahkan, tema “Malang Menyala” menjadi representasi semangat seluruh elemen untuk menyalakan ide, inovasi, dan kolaborasi melalui ekosistem ekonomi kreatif yang semakin kuat.
Vicky menjelaskan, Festival Mbois 11 menjadi momentum lahirnya konsep baru melalui kolaborasi lintas sektor atau hexahelix, yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, hingga lembaga keuangan dalam satu ekosistem pembangunan ekonomi kreatif.
Lebih jauh, Vicky mengungkapkan, MCF bersama sejumlah mitra bahkan telah melakukan komunikasi langsung dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Dari hasil kajian tersebut, muncul gagasan menjadikan Stadion Gajayana sebagai simbol baru pengembangan ekonomi kreatif berbasis sport tourism.
“Stadion Gajayana yang dibangun pada 1924 dan mulai beroperasi pada 1926 ternyata merupakan stadion tertua di Indonesia. Ini aset luar biasa yang selama ini belum banyak diangkat narasinya. Karena itu Festival Mbois XI akan menjadi titik awal kolaborasi antara ekonomi kreatif, olahraga, koperasi, dan kepemudaan,” katanya.
Vicky menilai momentum satu abad Stadion Gajayana menjadi peluang besar untuk mengangkat Malang sebagai kota kreatif yang mampu memanfaatkan warisan sejarah menjadi penggerak ekonomi masa depan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, mengatakan Festival Mbois 11 telah mendapat perhatian dari sejumlah kementerian karena dinilai mampu menjadi wadah integrasi berbagai program nasional.
“Festival Mbois XI akan menjadi event besar Kota Malang yang dipusatkan di Stadion Gajayana. Kegiatan ini mendapat dukungan lintas kementerian, mulai Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi, hingga Staf Khusus Presiden yang akan berkolaborasi bersama Pemerintah Kota Malang dan komunitas ekonomi kreatif,” jelas Baihaqi.
Menurutnya, festival tersebut akan menghadirkan seluruh 17 subsektor ekonomi kreatif, sehingga menjadi etalase kekuatan industri kreatif Kota Malang sekaligus ruang kolaborasi antar-pelaku ekonomi kreatif.
Baihaqi menegaskan, pemilihan Stadion Gajayana juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali nilai historis stadion yang telah menjadi ikon Kota Malang selama satu abad.
“Momentum 100 tahun Stadion Gajayana ingin kami jadikan sebagai pemantik semangat seluruh stakeholder untuk membangun kreativitas yang berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif. Nilai sejarah stadion ini menjadi kekuatan untuk menyatukan seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.
Terkait kesiapan venue, Baihaqi memastikan Stadion Gajayana siap menjadi tuan rumah Festival Mbois 11. Pengalaman menggelar berbagai agenda berskala besar, termasuk peringatan Harlah Nahdlatul Ulama yang dihadiri lebih dari 100 ribu peserta, menjadi modal penting dalam penyelenggaraan festival tersebut.
“Dengan pengalaman penyelenggaraan event besar sebelumnya, dukungan perangkat daerah, arahan Wali Kota Malang, serta sinergi seluruh instansi terkait, kami optimistis Festival Mbois XI dapat berlangsung sukses dan menjadi kebanggaan masyarakat Kota Malang,” pungkasnya. (Cha)















