Potensi Daerah Harus Menembus Nasional, HIPMI Malang Gandeng Jakarta Selatan

  • Bagikan
Ketua Umum BPC HIPMI Kota Malang, Hendi Suryo Leksono, bertemu Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Selatan, Dzaki Adinda didampingi tokoh HIPMI Kota Malang, Djoko Prihatin
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | JAKARTA — Pengusaha daerah tak boleh hanya menjadi penonton di tengah derasnya pertumbuhan ekonomi nasional. Pesan itu mengemuka dalam pertemuan BPC HIPMI Kota Malang dan BPC HIPMI Jakarta Selatan yang membahas penguatan konektivitas, perluasan pasar, investasi hingga peluang kolaborasi lintas daerah.

Ketua Umum BPC HIPMI Kota Malang, Hendi Suryo Leksono, bertemu Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Selatan, Dzaki Adinda, di Jakarta. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk membuka jalur yang lebih konkret bagi pengusaha daerah agar dapat terhubung langsung dengan pusat jaringan bisnis nasional.

Hendi menegaskan, potensi ekonomi daerah sangat besar. Namun, tanpa akses jaringan dan keberanian memperluas pasar, potensi tersebut akan sulit naik kelas.

“Pengusaha daerah jangan hanya menjadi pasar. Kita harus mampu menjadi pemain. Potensi usaha di daerah sangat besar, tetapi untuk naik kelas diperlukan akses, jaringan, dan keberanian untuk masuk ke ekosistem bisnis nasional,” ujar Hendi, Jumat (21/8/2026)

Menurutnya, Jakarta memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat jaringan bisnis, investasi dan pasar nasional. Karena itu, pengusaha daerah tidak harus meninggalkan basis usahanya di daerah untuk dapat masuk ke pasar nasional.

Sebaliknya, kekuatan daerah dapat menjadi fondasi, sementara Jakarta menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas jaringan dan skala bisnis.

Salah satu peluang yang dibahas adalah kolaborasi dengan Mantra Group, perusahaan holding milik Dzaki Adinda. Skema tersebut membuka peluang bagi pengusaha daerah untuk membangun kehadiran bisnis di Jakarta, termasuk melalui pendirian perusahaan sebagai bagian dari strategi ekspansi usaha.

“Pengusaha daerah tidak harus meninggalkan daerahnya. Kekuatan daerah tetap menjadi fondasi, sementara Jakarta bisa menjadi salah satu pintu untuk memperluas jaringan dan pasar,” kata Hendi.

Sementara itu, Dzaki Adinda menekankan bahwa konektivitas antar pengusaha harus menghasilkan kerja nyata. Networking, menurutnya, tidak boleh berhenti pada pertemuan dan pertukaran kartu nama.

“Kita ingin hubungan antara pengusaha daerah dan Jakarta tidak berhenti pada networking. Harapannya, konektivitas ini dapat membuka akses pasar, mempertemukan pengusaha dengan mitra strategis, dan menghasilkan kolaborasi bisnis yang konkret,” ujar Dzaki.

Ia menilai kekuatan ekonomi Indonesia justru tersebar di berbagai daerah. Masing-masing wilayah memiliki karakter, sumber daya dan keunggulan bisnis yang berbeda.

Ketika potensi tersebut dipertemukan dengan jaringan nasional, peluang bisnis yang lahir diyakini jauh lebih besar.

“Setiap daerah memiliki kekuatan masing-masing. Jakarta memiliki ekosistem dan akses yang berbeda. Kalau potensi daerah dan jaringan nasional bisa dipertemukan, akan muncul peluang yang lebih besar untuk dikembangkan bersama,” katanya.

Pembicaraan kedua organisasi pengusaha tersebut juga mengarah pada sektor strategis, salah satunya pertambangan dan hilirisasi.

Hendi melihat industri pertambangan bukan semata soal aktivitas eksplorasi dan produksi tambang. Di belakangnya terdapat rantai ekonomi yang panjang, mulai dari teknologi, jasa, logistik, konstruksi, alat berat, pengolahan hingga berbagai sektor pendukung.

“Ekosistem tambang sangat besar dan masih banyak celah yang bisa diisi. Yang dibutuhkan adalah generasi muda dengan wawasan Nusantara, yang mampu melihat potensi dari berbagai daerah dan menghubungkannya dengan kebutuhan industri nasional,” tegas Hendi.

Ia menilai generasi muda tidak harus menjadi pemilik tambang untuk dapat masuk ke sektor tersebut. Justru peluang besar tersedia pada rantai pasok dan industri pendukung yang menopang aktivitas pertambangan.

Dalam konteks itu, MINERS, program BPC HIPMI Jakarta Selatan di bawah kepemimpinan Dzaki Adinda, dinilai menjadi salah satu ruang strategis untuk mempertemukan pengusaha dengan pelaku industri, investor dan peluang bisnis pertambangan beserta sektor turunannya.

“MINERS menarik karena melihat pertambangan sebagai sebuah ekosistem. Ada banyak ruang yang dapat diisi pengusaha nasional, termasuk pengusaha dari daerah. Business matching menjadi penting agar kebutuhan industri dapat bertemu dengan kemampuan pengusaha,” ujar Hendi.

Dzaki memastikan MINERS diarahkan untuk membangun konektivitas bisnis yang lebih konkret.

“MINERS kami dorong bukan sekadar menjadi forum diskusi. Kami ingin mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan pengusaha sehingga dapat muncul business matching, kolaborasi, investasi, dan peluang usaha baru,” ujarnya.

Kolaborasi HIPMI Kota Malang dan HIPMI Jakarta Selatan diharapkan menjadi jembatan baru bagi pengusaha daerah untuk memperluas jaringan, membuka pasar dan masuk ke rantai ekonomi nasional.

Bagi Hendi, tantangan terbesar bukan sekadar bagaimana menciptakan pengusaha dari daerah, tetapi bagaimana melahirkan pengusaha daerah yang mampu berpikir dan bermain dalam skala Nusantara.

“Pengusaha boleh tumbuh dari daerah, tetapi cara berpikirnya harus Nusantara. Kita ingin pengusaha Malang mampu membawa potensi daerah ke pasar nasional dan mengambil bagian dalam rantai ekonomi Indonesia,” tutup Hendi.

Pertemuan tersebut turut dihadiri senior dan tokoh HIPMI Kota Malang, Djoko Prihatin, yang akrab disapa Rich Djoe. (cha)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *