MALANGPOINT.COM | MALANG – Panen raya jagung Advanta di Desa Purwosekar, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, menjadi bukti bahwa sektor pertanian dituntut semakin adaptif menghadapi perubahan iklim.
Di tengah kemarau yang relatif panjang dan kering, produktivitas jagung tetap didorong melalui penggunaan benih unggul, inovasi teknologi, serta penguatan kemitraan dengan petani.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Malang Dra. Hj. Lathifah Shohib saat menghadiri Harvest Festival dan Panen Raya Jagung Advanta di Desa Purwosekar, Rabu (7/10) siang.
Lathifah menyampaikan apresiasi kepada PT Advanta Seed Indonesia yang terus membangun kemitraan dengan petani di Kabupaten Malang, khususnya melalui pengembangan benih unggul dan penerapan inovasi dalam budidaya jagung.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada PT Advanta Seed Indonesia yang terus membangun kemitraan dengan petani di Kabupaten Malang,” ujar Lathifah.
Menurutnya, tantangan pertanian saat ini semakin kompleks. Petani tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga perlu didukung inovasi, teknologi, informasi cuaca, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim.
“Kolaborasi seperti ini sangat penting karena pertanian hari ini tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga membutuhkan inovasi, teknologi, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim,” tegasnya.
Ia menilai panen raya kali ini memiliki makna strategis karena berlangsung ketika kondisi kemarau cukup panjang dan kering. Keberhasilan panen bukan hanya diukur dari jumlah produksi, tetapi juga menunjukkan kemampuan petani menjaga produktivitas di tengah tekanan iklim.
“Keberhasilan panen jagung bukan semata-mata tentang berapa banyak hasil yang kita kumpulkan. Akan tetapi juga menjadi bukti bahwa sektor pertanian kita mampu beradaptasi terhadap tekanan iklim,” jelasnya.
Lathifah menegaskan, jagung memiliki posisi strategis dalam ketahanan pangan sekaligus menjadi bahan baku bagi berbagai sektor industri. Karena itu, keberlanjutan produksi jagung perlu ditopang ekosistem pertanian yang kuat dari hulu hingga hilir.
Pemkab Malang, lanjutnya, akan terus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, penyuluh, kelompok tani, akademisi, dan petani.
Kemitraan tersebut diharapkan tidak berhenti pada transfer teknologi. Petani harus ditempatkan sebagai bagian utama dari ekosistem inovasi pertanian sehingga mampu mengambil keputusan budidaya berdasarkan perkembangan teknologi dan kondisi lingkungan.
“Para petani di Kabupaten Malang tidak boleh hanya menjadi penerima teknologi, melainkan harus menjadi bagian utama dari ekosistem inovasi pertanian,” katanya.
Khusus kepada petani di Desa Purwosekar, Lathifah meminta agar perubahan iklim tidak menjadi alasan untuk berhenti berkembang. Menurutnya, perubahan kondisi lingkungan harus diikuti perubahan pola dan strategi bertani.
“Ketika iklim berubah, maka cara bertani juga harus berkembang. Manfaatkan varietas unggul, teknologi budidaya, informasi cuaca, serta pendampingan para penyuluh agar setiap jengkal lahan dapat memberikan hasil yang optimal,” tuturnya.
Ia berharap keberhasilan panen di Purwosekar dapat menjadi contoh penguatan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan di Kabupaten Malang.
“Pertanian tidak hanya menjadi sektor yang mampu bertahan menghadapi perubahan iklim, tetapi juga menjadi salah satu fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Malang,” pungkas Lathifah.















