MALANGPOINT.COM | MALANG – Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari tidak cukup hanya diukur dari aktivitas investasi dan pembangunan kawasan. Dampak nyata terhadap masyarakat Kabupaten Malang menjadi salah satu perhatian yang dibawa DPD LIRA Kabupaten Malang dalam audiensi dengan pengelola KEK Singhasari.
Pertemuan berlangsung di Kantor KEK Singhasari, Jalan Raya Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Rabu (23/9/2026). Sebanyak 11 orang dari LIRA diterima langsung Direktur Umum KEK Singhasari, Purnadi, bersama jajaran direksi.
Audiensi tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas arah pengembangan kawasan sekaligus membuka peluang kolaborasi. LIRA menegaskan tidak ingin hanya berada pada posisi sebagai pengawas kebijakan, tetapi juga siap menjadi mitra kritis dalam mendorong program yang memiliki dampak sosial dan ekonomi.
KEK Singhasari memiliki luas sekitar 120,3 hektare. Kawasan ini ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2019 dan mulai beroperasi pada 21 November 2022.
Pengembangannya mencakup empat sektor utama, yakni pendidikan, teknologi digital, industri kreatif, dan pariwisata.
Di sektor pendidikan, KEK Singhasari menjadi lokasi kehadiran King’s College London (KCL). Kerja sama dengan Indian Institute of Management Bangalore (IIM Bangalore) juga diarahkan untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia berdaya saing global.
Sementara di sektor industri kreatif, Animation and Film Factory (AFF) disebut telah mewadahi sekitar 500 animator. Pengelola kawasan juga menggandeng lebih dari 30 SMK bidang animasi, film, dan desain di Jawa Timur.
Wiwit Tuhu mengatakan, audiensi tersebut menjadi titik awal untuk memperkuat komunikasi antara masyarakat sipil dan pengelola KEK.
“Perlu ada dinamika yang lebih intens untuk membawa pembicaraan pada bahasa yang konkret terkait kontribusi dalam mendorong tingkat kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kabupaten Malang,” ujar Wiwit.
Ia berharap LIRA dapat mengambil peran sesuai bidang yang berkaitan dengan pengembangan KEK, terutama teknologi dan ekonomi digital.
“Harapannya LIRA dapat mengambil peran pada bidang yang sesuai untuk memastikan manfaat KEK Singhasari benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas,” katanya.
Menurut Wiwit, komunikasi yang semakin intensif dapat membuka pola kolaborasi baru antara masyarakat sipil dan pengelola kawasan.
“Jika sinergi ini terwujud, bukan tidak mungkin KEK Singhasari tidak hanya menjadi kebanggaan Jawa Timur, tetapi juga menjadi model kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang inklusif dan berkeadilan,” pungkasnya. (tem)















