MALANGPOINT.COM | JAKARTA — BPC HIPMI Jakarta Timur dan BPC HIPMI Kota Malang membuka dua jalur opportunity bagi pengusaha Malang. Pertama, peluang kolaborasi bisnis dengan jaringan Chinese Young Entrepreneurs Delegation. Kedua, akses pasar Jakarta melalui program kurasi, digitalisasi, dan pop-up market.
Peluang kerja sama dengan pengusaha China mencakup industrial docking, project co-investment, ekspor-impor, brand joint operation, hingga resource sharing.
Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Timur, Dhimas Pringgorodianto, mengatakan peluang tersebut dibuka bersama HIPMI Kota Malang untuk memetakan pengusaha yang memiliki produk, industri, atau model bisnis yang sesuai dengan jaringan bisnis China.
“Bisa saja ada pengusaha di Malang yang memiliki produk, industri, atau model bisnis yang memiliki kecocokan dengan counterpart dari China. Kami ingin membuka ruangnya terlebih dahulu,” ujar Pringgo.
Sedangkan Ketua Umum BPC HIPMI Kota Malang, Hendi Suryo Leksono, menilai peluang tersebut menjadi pintu bagi pengusaha Malang untuk memperluas jejaring hingga pasar internasional.
“Pengusaha Malang memiliki banyak potensi, tetapi tidak semuanya memiliki akses terhadap jaringan bisnis internasional,” kata Hendi, pada Rabu (26/8/2026)
Sementara itu, jalur kedua diarahkan untuk membawa pengusaha Malang masuk ke pasar Jakarta. Hendi dan Pringgo menggandeng Rachmat Anggara dari Qasir untuk melakukan kurasi sekaligus memperkuat digitalisasi usaha melalui pemanfaatan Qasir sebagai Point of Sale (POS).
Pengusaha yang dinilai siap akan mendapatkan kesempatan mengikuti pop-up market di Jakarta Timur. Salah satu lokasi yang tengah dijajaki adalah Travoy Hub, dengan pelaksanaan tetap menyesuaikan mekanisme dan ketentuan pengelola.
Rachmat mengatakan digitalisasi penting untuk memastikan bisnis lebih tertata sebelum masuk ke pasar yang lebih besar.
“Ketika sebuah usaha ingin masuk ke pasar yang lebih besar, pengelolaan bisnisnya juga harus semakin rapi,” ujarnya.
Hendi menegaskan, dua opportunity tersebut memiliki jalur berbeda, tetapi tujuan yang sama, yakni membuka ruang pertumbuhan bagi pengusaha.
“China adalah opportunity untuk penjajakan bisnis internasional. Sementara program bersama Qasir menjadi jalur untuk mempersiapkan pengusaha Malang mendapatkan market exposure di Jakarta,” tegasnya.
Pringgo berharap kolaborasi kedua BPC tidak berhenti pada silaturahmi, tetapi menghasilkan peluang bisnis yang konkret.
“Kalau jejaring HIPMI Jakarta Timur dan potensi pengusaha Kota Malang dipertemukan, bisa muncul opportunity yang konkret bagi pengusaha,” ujarnya.
Kolaborasi ini sekaligus menegaskan arah baru kerja sama antardaerah: jejaring tidak berhenti sebagai koneksi, tetapi didorong menjadi akses pasar, mitra bisnis, dan peluang pertumbuhan. (cha/dd)















