Hendi Suryo Leksono: Gekrafs Harus Jadi Rumah Besar Pekerja Kreatif, HIPMI Buka Akses Pasar

  • Bagikan
Hendi Suryo Leksono, Sekretaris DPC Gekrafs Kota Malang menerima SK dari Ketua DPW Gekrafs Jatim
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | KOTA MALANG – Penguatan ekonomi kreatif Kota Malang tidak cukup hanya mengandalkan pengusaha, tetapi juga harus merangkul pekerja kreatif independen yang selama ini menjadi penggerak industri kreatif.

Di sinilah Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) diharapkan mengambil peran lebih luas, sekaligus membuka jalan bagi karya anak muda menembus pasar.

Pandangan itu disampaikan Hendi Suryo Leksono, Sekretaris DPC Gekrafs Kota Malang yang baru dilantik pada Kamis (15/10/2026).

Pria yang juga menjabat Ketua Umum HIPMI Kota Malang tersebut menilai, Gekrafs dan HIPMI memiliki ruang gerak berbeda, tetapi dapat saling menguatkan dalam membangun ekosistem usaha.

Menurut Hendi, HIPMI memiliki karakter organisasi yang berfokus pada pengusaha muda, dengan sejumlah persyaratan keanggotaan.

Sementara itu, ekosistem ekonomi kreatif jauh lebih luas karena melibatkan pekerja lepas, fotografer, desainer, kreator konten, hingga pelaku industri kreatif yang belum tentu memiliki usaha formal.

“Pelaku ekonomi kreatif yang menggerakkan ekonomi kita banyak yang merupakan pekerja kreatif independen. Mereka juga harus diperhatikan, dirangkul, dan ditingkatkan taraf ekonominya,” ujarnya.

Hendi menilai, Gekrafs bisa menjadi wadah yang lebih luas bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk mengembangkan kapasitas, memperkuat jejaring, dan meningkatkan nilai ekonomi karya mereka.

Baginya, tantangan ekonomi kreatif bukan sekadar melahirkan orang-orang kreatif, melainkan memastikan kreativitas tersebut menghasilkan peluang usaha dan pendapatan yang berkelanjutan.

Karena itu, ia melihat peluang kolaborasi antara Gekrafs dan HIPMI sebagai langkah strategis. Jaringan pengusaha yang dimiliki HIPMI dapat membuka akses pasar, sedangkan para pelaku kreatif menyediakan karya, ide, dan layanan yang dibutuhkan dunia usaha.

“Bagaimana pelaku kreatif ini bisa dirangkul dan ditingkatkan taraf ekonominya. Karya-karya mereka harus punya kesempatan untuk dimanfaatkan dan diakses oleh para pengusaha,” ujar Hendi.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan potensi kreator lokal, sehingga pelaku kreatif tidak berhenti sebagai pemasok ide, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari karya yang dihasilkan.

Gagasan Hendi sejalan dengan komitmen Wali Kota Malang Wahyu Hidayat yang menegaskan pentingnya membuka ruang tumbuh bagi anak muda, mahasiswa, komunitas, dan pelaku usaha kreatif.

Wahyu menyebut potensi ekonomi kreatif Kota Malang sangat besar dan perlu didorong agar mampu menghasilkan karya berkualitas, mengembangkan usaha, serta membuka lapangan kerja.

“Potensi ekonomi kreatif Kota Malang sangat besar. Kita punya anak-anak muda dan mahasiswa dengan berbagai kreativitas. Ini harus kita dorong agar menghasilkan karya berkualitas, mengembangkan usaha kreatif, dan membuka lapangan kerja,” ujar Wahyu.

Ia juga mendorong pemanfaatan Malang Creative Center (MCC) sebagai ruang pengembangan ide, kolaborasi komunitas, dan penguatan berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari fesyen, film, gim, hingga musik.

Menurut Wahyu, predikat Kota Kreatif Dunia dari UNESCO bukan sekadar kebanggaan, melainkan tanggung jawab yang harus dibuktikan melalui perkembangan nyata dan keberlanjutan ekosistem kreatif.

“Predikat Kota Kreatif Dunia yang ditetapkan UNESCO harus kita buktikan dengan semakin banyaknya karya berkualitas, tumbuhnya usaha kreatif, dan terbukanya lapangan kerja,” tegasnya. (cha)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *