Miris! Aksi Sawer Biduan oleh Anak SD di Mlaku Fest Kota Batu, Pengawasan Guru Dipertanyakan

  • Bagikan
Sejumlah siswa SD terlihat naik ke panggung, berjoget hingga memberikan uang sawer kepada seorang biduan perempuan
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | KOTA BATU – Kegiatan jalan sehat “Mlaku Fest” yang seharusnya menjadi ajang kebersamaan dan edukasi bagi pelajar SD di Kota Batu justru berubah menjadi sorotan.

Di tengah hiburan musik, sejumlah siswa SD terlihat naik ke panggung, berjoget hingga memberikan uang sawer kepada seorang biduan perempuan.

Peristiwa itu terjadi dalam kegiatan yang diikuti ribuan siswa SD se-Kecamatan Batu di Rest Area Mayangsari, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kamis (20/8/2026).

Aksi tersebut memantik keprihatinan wali murid. Bukan hanya soal anak-anak yang bertindak spontan, tetapi di mana guru, pendamping dan panitia saat aksi itu berlangsung.

Salah seorang wali murid berinisial Z mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut.

“Saya prihatin karena tidak ada pengawasan dari guru dan panitia. Anak-anak masih dalam masa pertumbuhan, termasuk etika dan moralnya,” ujarnya.

Ketua K3S, Mohammad Mustain, M.Ag, membenarkan aksi menyawer itu terjadi di luar rencana panitia. Ia juga mengakui tindakan tersebut kurang pantas dan kurang etis dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar.

“Kejadian itu spontan dan tidak ada dalam susunan acara. Ini menjadi bahan evaluasi dan ke depan pengawasan akan diperketat,” tegasnya.

Namun, alasan “spontan” justru memunculkan pertanyaan yang lebih tajam. Bukankah ketika anak-anak bertindak spontan, di situlah fungsi pengawasan orang dewasa seharusnya berjalan.

Persoalannya bukan sekadar uang sawer atau anak-anak yang berjoget. Yang menjadi sorotan adalah bagaimana sebuah kegiatan yang membawa unsur pendidikan dan melibatkan ribuan siswa SD bisa kecolongan hingga aksi tersebut terjadi di depan banyak peserta.

Jangan sampai kata “spontan” menjadi alasan untuk menutup lemahnya pengawasan.

Anak-anak adalah peserta didik yang membutuhkan arahan dan keteladanan. Kegiatan di luar kelas pun tetap harus menjadi bagian dari ruang pendidikan, bukan justru menghadirkan tontonan yang berpotensi memberi contoh keliru.

Hingga berita ini ditulis, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, M. Noer Adhim, belum memberikan keterangan resmi terkait tindak lanjut maupun evaluasi atas kejadian tersebut.

Kini publik menunggu langkah nyata. Sebab evaluasi tidak boleh berhenti pada klarifikasi. Ketika nama pendidikan dibawa dalam sebuah kegiatan, maka pengawasan dan keteladanan seharusnya tidak boleh ikut “kecolongan”. (cha/dd)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *