Usia Satu Abad, Menekraf Dorong Stadion Gajayana Jadi Mesin Ekonomi Kreatif

  • Bagikan
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya saat menghadiri hari kedua Festival Mbois 11 Malang Menyala di Stadion Gajayana
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | KOTA MALANG — Usia satu abad Stadion Gajayana tak sekadar menjadi catatan sejarah olahraga Kota Malang. Pemerintah pusat melihat stadion legendaris itu memiliki peluang baru: menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis olahraga.

Gagasan tersebut disampaikan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya saat menghadiri hari kedua Festival Mbois 11 Malang Menyala di Stadion Gajayana, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Teuku Riefky, aktivasi Gajayana menjadi ruang kreatif merupakan langkah strategis di tengah upaya Kota Malang memperkuat posisinya sebagai kota kreatif dunia.

Ia mengingatkan, status Malang dalam UNESCO Creative Cities Network (ICCN) bidang Media Arts bukanlah garis akhir.

“Creative City Network yang diterima oleh Kota Malang itu adalah start point, bukan akhir dari tujuan,” kata Teuku Riefky.

Karena itu, predikat tersebut harus diterjemahkan dalam aktivitas kreatif yang konsisten sekaligus memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.

“Yang paling penting adalah bagaimana ini memberikan dampak ekonomi, dampak terhadap PDRB daerah, kesejahteraan para pegiat ekonomi kreatif, dan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Gajayana Bisa Jadi Model Nasional
Teuku Riefky menilai Kota Malang memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif. Talenta, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah daerah dan media disebut telah menjadi fondasi penting.

Namun, persoalan ruang kreatif masih menjadi tantangan di banyak daerah.
Di titik inilah Stadion Gajayana dinilai memiliki peran strategis.

Teuku Riefky mencontohkan aktivitas Malang Creative Center (MCC) yang disebut telah mencapai lebih dari 1.100 hingga 1.200 program setiap bulan.

Menurut dia, tingginya aktivitas tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap ruang kreatif terus berkembang. Karena itu, penggunaan fasilitas olahraga sebagai ruang kreatif dinilai dapat menjadi alternatif.

“Sekarang Stadion Gajayana ini mau diaktivasi juga. Ini luar biasa. Ini bisa menjadi contoh daerah-daerah lain,” katanya.

Menurut dia, ruang kreatif tidak selalu harus berbentuk gedung khusus. Stadion, fasilitas olahraga hingga ruang terbuka hijau dapat diubah menjadi ruang produktif sepanjang dikelola dengan konsep dan kolaborasi yang tepat.

Jika gagasan tersebut direalisasikan, Gajayana berpotensi menjadi simpul baru yang mempertemukan olahraga, industri kreatif, event, media, hiburan, fesyen, kuliner, desain hingga ekonomi digital.

Dorongan terhadap ekonomi kreatif juga berkaitan erat dengan persoalan lapangan kerja.

Teuku Riefky menyebut sektor ekonomi kreatif saat ini telah menyerap sekitar 27,4 juta pekerja. Sebanyak 63 persen merupakan Gen Z dan milenial, sedangkan 58 persen pekerjanya adalah perempuan.

Di sisi lain, dari sekitar 7,5 juta pengangguran terbuka di Indonesia, menurut data yang dipaparkannya, sekitar 82 persen berasal dari Gen Z dan milenial.

Kondisi itu, kata dia, menunjukkan adanya peluang besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

“Kalau lapangan pekerjaan yang diminati Gen Z dan milenial adalah sektor ekraf, sementara pengangguran yang terjadi mayoritas Gen Z dan milenial, sebetulnya sektor ekraf ini dapat menurunkan angka pengangguran terbuka di seluruh daerah,” ujarnya.

Namun, potensi itu tidak akan bergerak otomatis.
Pemerintah pusat dan daerah, komunitas, asosiasi, media, dunia usaha, akademisi hingga lembaga keuangan harus membangun ekosistem yang saling menopang.

Teuku Riefky juga menekankan pentingnya mengolah kekuatan budaya lokal dengan inovasi dan teknologi. Menurut dia, kekayaan budaya di berbagai daerah dapat menjadi sumber nilai ekonomi baru ketika dikembangkan secara kreatif.

Bagi Malang, momentum satu abad Stadion Gajayana menjadi peluang untuk mengubah cara pandang terhadap aset olahraga tersebut.

Gajayana tidak harus berhenti sebagai tempat pertandingan. Stadion itu dapat menjadi ruang publik produktif sekaligus mesin ekonomi baru bagi kota.

Festival Mbois 11 Malang Menyala memperlihatkan bagaimana ruang olahraga dapat diisi aktivitas kreatif. Tantangan berikutnya adalah memastikan aktivasi tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial.

Jika konsisten dikembangkan, Gajayana bukan hanya akan menjadi saksi perjalanan olahraga Malang selama satu abad, tetapi juga dapat memasuki babak baru sebagai hub ekonomi kreatif berbasis olahraga.

Dan dari stadion bersejarah itu, Malang berpeluang menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak selalu membutuhkan ruang baru—yang dibutuhkan adalah keberanian menghidupkan kembali ruang yang sudah dimiliki kota.(cha)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *