Sanusi Tegaskan Era Suporter Rusuh Sudah Berakhir, Aremania Harus Jadi Teladan Sepak Bola Indonesia

  • Bagikan
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M. menegaskan bahwa era ketika suporter identik dengan kerusuhan dan rasa takut harus menjadi bagian dari sejarah.

Di hadapan Pengurus Pusat Aremania Utas Periode 2026–2030 yang baru dilantik, Sanusi menyerukan lahirnya wajah baru Aremania sebagai komunitas suporter yang dewasa, beradab, dan menjadi teladan bagi sepak bola Indonesia.

Pesan itu disampaikan saat menghadiri pelantikan Pengurus Pusat Aremania Utas di Cemara Ballroom Singosari, Minggu (2/8) malam. Acara tersebut dihadiri jajaran Forkopimda Malang Raya, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang, Kapolres Malang, Kapolresta Malang Kota, Founding Father Aremania, manajemen Arema FC, serta ratusan anggota Aremania.

Menurut Sanusi, kepengurusan baru memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menjalankan roda organisasi. Mereka dituntut menjaga marwah Aremania sekaligus membuktikan bahwa komunitas suporter mampu menjadi mitra dalam menciptakan keamanan, ketertiban, dan kemajuan sepak bola nasional.

“Kepengurusan ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Amanah yang diemban harus mampu menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Aremania Utas harus menjadi contoh terbaik, bukan hanya bagi Kabupaten Malang, tetapi juga bagi Indonesia,” tegasnya.

Sanusi kemudian mengajak seluruh hadirin menoleh ke belakang. Ia mengenang masa ketika pertandingan sepak bola di Malang identik dengan ketegangan.

Pada era 1980-an, banyak pertokoan dan stasiun pengisian bahan bakar memilih menutup usahanya setiap kali pertandingan berlangsung karena khawatir terjadi bentrokan antarsuporter.

Bahkan, pengalaman itu pernah ia rasakan sendiri. Saat masih menjadi mahasiswa, Sanusi mengaku harus mengenakan sarung agar dianggap bagian dari Aremania demi menghindari konflik di perjalanan. Ia juga pernah menjadi korban aksi kekerasan suporter ketika pulang sekolah.

Namun, menurutnya, perjalanan panjang itu telah membawa perubahan besar. Aremania saat ini dinilai semakin matang, tertib, dan memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga nama baik daerah.

Perubahan tersebut, lanjut Sanusi, bahkan memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat. Jika dulu pertandingan membuat pelaku usaha memilih menutup toko, kini kehadiran Aremania justru menjadi penggerak aktivitas ekonomi.

“Kalau sekarang ada Aremania, UMKM justru buka semua. Kehadiran suporter menjadi berkah bagi masyarakat dan menggerakkan ekonomi lokal. Ini perubahan yang patut kita syukuri,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi meningkatnya kedisiplinan suporter, mulai dari kepatuhan berlalu lintas hingga kesadaran menjaga ketertiban di ruang publik.

Baginya, perubahan perilaku tersebut merupakan modal penting untuk mengembalikan citra sepak bola Indonesia sebagai olahraga yang mampu menyatukan, bukan memecah belah.

Mengakhiri sambutannya, Sanusi mengajak seluruh keluarga besar Aremania menjadikan “Salam Satu Jiwa” sebagai komitmen nyata, bukan sekadar slogan. Persaudaraan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial harus menjadi identitas utama setiap Aremania.

Dengan kepengurusan baru periode 2026–2030, Pemerintah Kabupaten Malang berharap Aremania Utas mampu memperkuat konsolidasi organisasi, melahirkan berbagai inovasi, serta menjadi garda terdepan dalam membangun budaya suporter yang damai, berkelas, dan membawa sepak bola Indonesia menuju masa depan yang lebih bermartabat.(tem/dd)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *