Akademisi ITICM: Transjatim MLG2 Harus Masuk Arjosari, UMKM dan Angkot Perlu Diintegrasikan

  • Bagikan
Arvendo Mahardika dan Pakar Smart City ITICM, Ari Widianto
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | KOTA MALANG – Integrasi Transjatim koridor MLG2 ke Terminal Arjosari dinilai penting untuk memperkuat konektivitas transportasi Malang Raya sekaligus menggerakkan ekonomi UMKM.

Pemerintah diminta mengoptimalkan kajian yang telah tersedia agar layanan transportasi publik tidak berjalan sendiri-sendiri.

Kepala Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat, Kerja Sama, dan Inkubator Bisnis (LPPM-KSIB) Institut Teknologi Insan Cendekia Mandiri (ITICM), Arvendo Mahardika, menilai masuknya Transjatim MLG2 ke Arjosari berpotensi menghidupkan kembali aktivitas Terminal Tipe C yang selama ini kurang optimal.

Menurutnya, integrasi tersebut memudahkan penumpang berpindah moda dalam satu kawasan sekaligus membuka peluang kebangkitan stan-stan UMKM di terminal.

“Jika Transjatim tidak masuk Arjosari, peluang menghidupkan Terminal Tipe C dan menggerakkan UMKM bisa terlewat. Masyarakat membutuhkan transportasi yang terintegrasi, aman, nyaman, dan memiliki jadwal pasti,” ujar Arvendo, Kamis (29/10/2026).

Ia menilai MLG2 juga berpotensi menghidupkan kembali konektivitas yang dahulu dilayani angkot trayek Madyopuro–Arjosari (MA). Bedanya, Transjatim menawarkan jangkauan lebih luas hingga Kepanjen.

Arvendo juga menyoroti layanan Transjatim Ekspedisi (Tradisi) yang memungkinkan pengiriman barang dengan skema same-day. Layanan tersebut dinilai berpeluang membantu UMKM mendistribusikan produk dengan biaya lebih terjangkau.

“Jangan sampai potensi distribusi murah bagi pelaku usaha kecil justru terhambat karena persoalan integrasi rute,” tegasnya.

Terkait kekhawatiran sopir angkot terhadap persaingan, Arvendo meminta Pemkot Malang dan Pemprov Jatim segera menindaklanjuti kajian bersama Universitas Brawijaya yang disebut telah tersedia sejak dua tahun lalu.

Pakar Smart City ITICM, Ari Widianto, menegaskan penataan transportasi Malang Raya harus bertumpu pada kajian kelayakan yang mempertimbangkan aspek teknis, operasional, ekonomi, sosial, tata kelola, serta kepentingan seluruh pihak.

Kepala Program Studi Informatika tersebut menyebut teknologi informasi dapat mendukung optimalisasi rute, analisis kebutuhan penumpang, integrasi layanan, dan pemantauan operasional. Namun, penerapannya harus berangkat dari persoalan nyata dan kebutuhan masyarakat.

“Tujuannya bukan sekadar menghadirkan sistem yang canggih, melainkan menciptakan layanan transportasi yang baik dan memberikan manfaat bagi semua pihak,” jelasnya.

Ari menekankan, Transjatim dan angkot seharusnya tidak diposisikan sebagai dua moda yang saling berhadapan. Pemerintah perlu mengkaji pembagian peran dan integrasi layanan agar mobilitas masyarakat meningkat tanpa mengabaikan keberlangsungan usaha angkutan konvensional.

“Yang perlu dibangun adalah sistem yang membuat keduanya saling melengkapi. Kebijakan harus berbasis kajian, mempertimbangkan kondisi lapangan, dan mengakomodasi kepentingan seluruh pihak,” pungkasnya. (red)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *