Seabad Merti Desa Tulungrejo, Ribuan Warga Tumpah Ruah Saksikan Karnaval Budaya di Kota Batu

  • Bagikan
suguhan kostum tradisional, seni pertunjukan, replika budaya meriahkan karnaval budaya desa Tulungrejo Kota Batu
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | KOTA BATU – Ribuan warga memadati ruas jalan di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Rabu (5/8/2026), untuk menyaksikan Karnaval Budaya Merti Desa yang digelar sebagai puncak perayaan Selamatan Desa Tulungrejo.

Tahun ini menjadi momen istimewa karena tradisi yang telah berlangsung selama satu abad itu juga menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.

Atmosfer kemeriahan sudah terasa sejak pagi. Masyarakat dari berbagai daerah berjejer di sepanjang rute demi menyaksikan parade budaya yang menghadirkan puluhan atraksi penuh warna.

Sebanyak 37 kontingen dari lima dusun—Wonorejo, Junggo, Gerdu, Gondang, dan Kekep—berkolaborasi menampilkan kekayaan budaya Nusantara bersama peserta dari PKK, Karang Taruna, sekolah hingga anak-anak taman kanak-kanak.

Parade berlangsung meriah dengan suguhan kostum tradisional, seni pertunjukan, replika budaya, hingga kreativitas bertema sejarah yang mengundang decak kagum ribuan penonton.

Antusiasme masyarakat menjadikan Merti Desa Tulungrejo bukan sekadar agenda budaya, tetapi juga salah satu magnet wisata tahunan di Kota Batu.

Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, mengatakan Merti Desa merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga sebagai identitas masyarakat. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur, tetapi juga media memperkuat persatuan dan gotong royong warga.

“Karnaval budaya ini merupakan rangkaian Selamatan Desa sekaligus memeriahkan HUT RI ke-81. Harapannya, kebersamaan masyarakat semakin kuat dan budaya leluhur tetap lestari,” ujarnya.

Mengangkat tema “Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti”, perayaan tahun ini mengandung pesan tentang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus ajakan menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Pemerintah desa juga melibatkan seluruh elemen masyarakat agar pelestarian budaya tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian datang dari kontingen RW 03 yang menghadirkan Anggota Komisi A DPRD Kota Batu dari Fraksi PDI Perjuangan, Khamim Tohari.

Mengenakan kostum Patih Majapahit lengkap dengan atribut kebesaran kerajaan, ia menjadi pusat perhatian ribuan penonton yang memenuhi jalur karnaval.

Kostum koleksi Gong Production asal Madiun itu menghadirkan nuansa kejayaan Kerajaan Majapahit di tengah kemeriahan parade. Penampilannya pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang berulang kali mengabadikan momen tersebut.

Khamim menegaskan keikutsertaannya merupakan bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal yang mulai tergerus perkembangan zaman.

“Ini bukan sekadar seremoni. Kami ingin terus uri-uri budaya leluhur agar tidak hilang ditelan zaman,” katanya.

Ia menilai Merti Desa menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, memahami jati diri bangsa, sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan leluhur.

Selain menjadi pesta budaya, penyelenggaraan Merti Desa juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Ratusan pelaku UMKM, pedagang kuliner, minuman, hingga produk kerajinan lokal memadati kawasan acara dan menikmati lonjakan pengunjung selama kegiatan berlangsung.

Memasuki usia satu abad, Merti Desa Tulungrejo menunjukkan bahwa tradisi tetap memiliki tempat di tengah masyarakat modern.

Lebih dari sekadar hiburan, perayaan ini menjadi simbol kuat persatuan warga, pelestarian budaya, serta penggerak ekonomi lokal yang memperkuat identitas Kota Batu sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal. (cha)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *