Realisasi KPR Terbanyak Non-Subsidi, Podorukun Group Raih Penghargaaan dari BSN

  • Bagikan
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | KOTA MALANG – Podorukun Group kembali menorehkan capaian penting di sektor properti nasional. Pengembang yang dipimpin H.M. Mudhofar ST dan Doni Ganatha ST itu meraih penghargaan sebagai developer dengan realisasi terbanyak untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) non-subsidi dari Bank Syariah Nasional (BSN) pada tahun 2025.

Penghargaan tersebut menempatkan Podorukun sebagai pengembang dengan realisasi KPR non-subsidi tertinggi di Malang Raya. Capaian ini juga memperlihatkan tingginya minat masyarakat terhadap hunian non-subsidi yang ditawarkan dengan skema pembiayaan syariah.

Prestasi tersebut diraih di tengah dinamika pasar properti yang tidak sepenuhnya mudah. Pada tahun 2025 pemerintah memberikan stimulus Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) bagi pembelian rumah dengan harga maksimal Rp.5 miliar.

Insentif tersebut berlaku 100 persen pada Januari hingga Juni dan dilanjutkan sebesar 50 persen pada Juli hingga Desember. Kebijakan ini menjadi salah satu pendorong transaksi di sektor perumahan, termasuk pada segmen non-subsidi.

Owner Podorukun Group, H.M. Mudhofar, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk kepercayaan konsumen terhadap produk hunian yang dikembangkan perusahaannya.

Ia menilai kolaborasi dengan BSN turut membantu masyarakat memperoleh akses pembiayaan yang lebih aman dan transparan.

“Terima kasih atas kepercayaan para konsumen yang telah memilih Podorukun sebagai tempat terwujudnya perumahan impian. Kami akan terus berkomitmen menghadirkan rumah berkualitas dengan pembiayaan yang aman dan terpercaya,” ujarnya.

Mudhofar juga mengakui bahwa ke depan pasar rumah non-subsidi akan menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah perlambatan daya beli masyarakat kelas menengah serta meningkatnya biaya pembangunan yang dipicu kenaikan harga material konstruksi.

Selain itu, akses pembiayaan perbankan juga cenderung lebih selektif sehingga proses pengajuan KPR menjadi lebih ketat. Data survei sektor properti menunjukkan penjualan rumah residensial di Indonesia bahkan sempat mengalami kontraksi sekitar 3,8 persen pada 2025 akibat berbagai tekanan tersebut.

Di sisi lain, pengembang juga harus berhadapan dengan tantangan biaya lahan yang semakin tinggi serta suku bunga kredit perumahan yang masih menjadi pertimbangan bagi calon pembeli.

Faktor-faktor ini dinilai dapat memengaruhi kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan membeli rumah, khususnya pada segmen non-subsidi.

Menghadapi situasi tersebut, Podorukun menyiapkan sejumlah strategi agar pasar tetap bergerak. Salah satunya dengan menjaga kualitas pembangunan sekaligus menyesuaikan konsep hunian dengan kebutuhan masyarakat kelas menengah yang kini lebih selektif dalam memilih rumah.

Selain itu, perusahaan juga terus memperkuat kolaborasi dengan lembaga keuangan syariah agar skema pembiayaan menjadi lebih fleksibel dan terjangkau bagi konsumen. Menurut Mudhofar, kepercayaan konsumen menjadi faktor utama yang harus dijaga dalam industri properti.

Ia menambahkan, Podorukun akan terus menghadirkan proyek hunian yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, aksesibilitas, serta kemudahan pembiayaan.

Dengan langkah tersebut, perusahaan optimistis dapat terus berkontribusi pada pertumbuhan sektor perumahan nasional sekaligus menjawab kebutuhan hunian masyarakat yang terus meningkat.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *