MALANGPOINT.COM | KOTA MALANG – Fenomena viral lagu “MBG: Mas Bahlil Ganteng” yang ramai digunakan di berbagai platform media sosial mendapat tanggapan positif dari Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang, Djoko Prihatin.
Menurut Djoko, tren tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh kreativitas netizen dalam membangun komunikasi publik yang lebih segar, ringan, dan mudah diterima masyarakat, khususnya generasi muda.
“Ini membuktikan bahwa media sosial sekarang menjadi ruang kreativitas yang luar biasa. Saya melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang positif dan menghibur. Netizen mampu menghadirkan komunikasi politik dengan cara yang santai namun tetap menarik perhatian publik,” ujar Djoko Prihatin, Kamis (28/5/2026).
Djoko menilai viralnya lagu tersebut juga menjadi indikasi bahwa sosok Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat digital.
“Pak Bahlil dikenal sebagai figur pekerja keras, dekat dengan masyarakat, dan komunikatif. Ketika kemudian muncul lagu-lagu kreatif seperti ini, kami melihatnya sebagai bentuk ekspresi publik di era digital,” katanya.
Ia menambahkan, Partai Golkar pada tingkatan Kota tidak mempermasalahkan munculnya berbagai parodi maupun konten hiburan yang berkembang di media sosial selama tetap disampaikan secara santun dan positif.
“Bagi kami, ini bagian dari dinamika demokrasi digital. Kreativitas anak muda harus diapresiasi. Bahkan saya melihat ada energi optimisme dan semangat kebersamaan di dalam tren-tren seperti ini,” lanjutnya.
Lagu “MBG: Mas Bahlil Ganteng” sendiri belakangan viral di TikTok, Instagram, hingga X dan digunakan sebagai latar berbagai video hiburan serta meme kreatif.
Salah satu penggalan lirik yang ramai diperbincangkan berbunyi, “MBG, Mas Bahlil ganteng. Buah apa yang paling manis? Buahlil.”
Djoko menyebut fenomena tersebut sebagai “The Power of Netizen” yang memperlihatkan bagaimana budaya digital kini memiliki peran besar dalam membentuk opini publik dan citra tokoh di ruang media sosial.
“Sekarang komunikasi politik tidak selalu harus formal. Pendekatan kreatif dan humor justru lebih cepat diterima masyarakat. Ini era kolaborasi antara budaya populer dan komunikasi publik,” pungkasnya.















