Prof Zainuddin: Malang Jangan Sampai Kehilangan Jati Diri sebagai Kota Pendidikan

  • Bagikan
Foto : Prof. Dr. H. Muhammad Zainuddin, MA, dalam diskusi publik bertema “Malang Kehilangan Arah? Ketika Kota Pendidikan dan Budaya Tergeser oleh Industri Hiburan Malam”
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | KOTA MALANG – Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan dinilai tidak boleh bergeser di tengah derasnya dinamika sosial dan pertumbuhan industri hiburan malam.

Rektor UIN Maliki Malang periode 2021–2025, Prof. Dr. H. Muhammad Zainuddin, MA, menegaskan pentingnya menjaga arah pembangunan kota agar tetap berpijak pada karakter dasarnya: pendidikan, wisata, dan industri berbasis kearifan lokal.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam diskusi publik bertema “Malang Kehilangan Arah? Ketika Kota Pendidikan dan Budaya Tergeser oleh Industri Hiburan Malam” di Universitas Widya Gama Malang, beberapa waktu lalu.

Prof Zainuddin mengapresiasi penyelenggaraan forum yang menghadirkan akademisi dan pengambil kebijakan. Menurutnya, tema yang diangkat sangat “menggigit” karena menyentuh persoalan mendasar arah Kota Malang.

Ia menilai, dengan adanya tanda tanya dalam tema tersebut, diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama, bukan sekadar vonis bahwa Malang telah kehilangan arah.

Sebagai kota pendidikan, Malang saat ini dihuni sekitar 300 ribu mahasiswa dari berbagai daerah. Angka tersebut, kata Prof Zainuddin, membawa konsekuensi sosial yang besar.

Setiap tahun mahasiswa datang dan pergi, sebagian kembali ke daerah asal setelah lulus, namun tidak sedikit yang memilih menetap karena bekerja atau menikah di Malang. Dinamika ini, menurutnya, turut menambah beban kota.

“Infrastruktur kita relatif tetap, sementara jumlah penduduk terus bertambah. Ini tentu memengaruhi kepadatan lalu lintas, kebutuhan hunian, hingga perubahan kultur sosial,” ujarnya.

Ia mengingatkan kembali moto Malang sebagai “Tribina Cipta’ kota pendidikan, kota wisata, dan kota industri.

Namun industri yang dimaksud bukanlah industri besar seperti di kota metropolitan, melainkan industri berbasis kearifan lokal. Orientasi pembangunan, tegasnya, harus tetap selaras dengan karakter kota.

“Industrinya itu yang bertumpu pada local wisdom, bukan industri besar yang mengubah wajah kota secara drastis,” tegasnya.

Prof Zainuddin juga menyinggung ambisi Kota Malang menjadi kota kreatif. Menurutnya, inovasi dan pertumbuhan ekonomi tetap penting, namun jangan sampai menggerus identitas sebagai kota yang kondusif untuk belajar.

Ia mengenang Malang pada era 1980–1990-an sebagai kota yang asri, sejuk, dan tertata. Trotoar ramah pejalan kaki, kemacetan nyaris tak terasa, dan suasana akademik begitu kuat.

Kini, terutama pada jam-jam tertentu, kepadatan lalu lintas dan kompleksitas tata kota menjadi persoalan yang tak bisa diabaikan.

Bagi Prof Zainuddin, isu arah kota bukan persoalan tunggal hiburan malam, melainkan masalah yang kompleks dan saling berkaitan, mencakup aspek sosial, budaya, politik, hingga infrastruktur.

Karena itu, ia mendorong agar diskusi publik seperti ini tidak berhenti pada kritik, melainkan melahirkan rekomendasi yang terukur dan objektif bagi pemerintah daerah.

Dengan ratusan ribu mahasiswa yang menggantungkan masa depan akademiknya di Malang, ia menekankan pentingnya menjaga citra kota sebagai ruang belajar yang aman dan bermartabat.

“Kita pertahankan brand Malang sebagai kota pendidikan. Itu yang harus terus dirawat,” ujarnya.

Menurutnya, mencintai Malang berarti berani mengevaluasi arah pembangunannya. Diskusi yang melibatkan akademisi, media, dan pengambil kebijakan harus menjadi langkah awal untuk memastikan kota ini tetap berkarakter dan tidak kehilangan jati dirinya.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *