MALANGPOINT.COM | KOTA MALANG — Batik Malangan tak lagi sekadar kain bermotif tradisional. Di tangan para perajin dan pelaku industri kreatif, batik berkembang menjadi medium untuk merekam karakter, potensi, sekaligus identitas Kota Malang.
Semangat itu terlihat dalam Festival Batik Kota Malang 2026 yang digelar di Alun-Alun Merdeka, Minggu (4/10/2026).
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah Sekar Jagad Panca Warna, motif yang merepresentasikan warna dan karakteristik lima kecamatan di Kota Malang.
Motif tersebut menjadi simbol bagaimana kekayaan lokal dapat diterjemahkan menjadi karya batik yang memiliki nilai budaya sekaligus daya saing ekonomi kreatif.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menilai Sekar Jagad Panca Warna bukan hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa pesan tentang keberagaman Kota Malang.
“Sekar Jagad Panca Warna ini menggambarkan warna-warna dari lima kecamatan sekaligus karakteristik yang ada di masing-masing kecamatan. Tadi juga diangkat batik dari setiap kecamatan dan luar biasa. Batik Kota Malang ini bisa kita banggakan dan tidak kalah dengan batik-batik dari kota lain,” ujar Wahyu.
Festival Batik Kota Malang tahun ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober.
Momentum tersebut mengingatkan kembali pentingnya menjaga batik sebagai warisan budaya sekaligus mengembangkan inovasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Batik Indonesia sendiri telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 2 Oktober 2009.
Pemerintah kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009.
Bagi Pemkot Malang, peringatan tersebut tidak berhenti pada seremoni. Batik Malangan didorong terus berkembang menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif dan identitas kota.
Wahyu mengatakan, peluang memperkenalkan batik Malangan ke tingkat yang lebih luas juga semakin terbuka.
Tahun sebelumnya, batik Malangan bahkan mendapat kesempatan tampil dalam festival yang mempertemukan karya batik dari tiga kota, yakni Malang, Pekalongan, dan Magelang.
Menurutnya, kekuatan utama batik Malangan terletak pada karakter desainnya yang mampu mengolah keberagaman kultur serta potensi lokal menjadi motif yang lebih adaptif.
“Batik Malangan mempunyai aksen dan desain yang berbeda. Berbagai kultur dan potensi yang ada di Kota Malang bisa menjadi unsur dalam desainnya, sehingga disukai anak-anak muda,” katanya.
Karakter yang fleksibel tersebut membuat batik Malangan tidak hanya identik dengan busana formal. Motif dan desainnya dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk busana kasual yang dekat dengan gaya hidup generasi muda.
Wahyu menegaskan, kondisi itu menjadi peluang besar bagi pengembangan batik sebagai bagian dari industri kreatif Kota Malang.
“Ini menjadi salah satu inovasi dan kreativitas yang bisa kita banggakan, apalagi Kota Malang menjadi kota kreatif dunia. Batik Malangan bisa kita tampilkan di pentas internasional, tidak hanya sebagai batik tradisional, tetapi juga batik yang disukai anak muda,” pungkasnya. (red)















