Bupati Malang Dorong Swasembada Pangan Berbasis Sekolah

  • Bagikan
Bupati Malang M. Sanusi bersama Wakil Bupati Lathifah Shohib menggandeng Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) untuk mengembangkan program swasembada pangan berbasis sekolah
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | MALANG — Bupati Malang M. Sanusi bersama Wakil Bupati Lathifah Shohib menggandeng Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) untuk mengembangkan program swasembada pangan berbasis sekolah yang tidak hanya mengajarkan siswa bercocok tanam, tetapi juga membangun kemandirian dan jiwa kewirausahaan sejak dini.

Komitmen tersebut mengemuka saat Sanusi dan Lathifah mendampingi kunjungan YSPN yang dipimpin Ketua Umum Marsdya TNI (Purn) Daryatmo di empat sekolah di Kecamatan Kepanjen, Selasa (20/10/2026).

Rombongan juga melibatkan Ketua Pembina YSPN Mayjen TNI (Purn) Sudrajat serta anggota Dewan Pembina Prof. Akmal Malik, Yuni Srinarjo, dan Dr. Hendra Susanto.

Empat sekolah yang dikunjungi meliputi SMP Negeri 2 Kepanjen, SD Negeri 4 Panggungrejo, SMP Negeri 1 Kepanjen, dan SMP Assa’idiyyah Kepanjen.

Program bertema “Bersinergi Menuju Sekolah Gratis Berbasis Ketahanan Pangan, Demi Mewujudkan Generasi Sehat, Kreatif dan Mandiri” ini diarahkan untuk menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang pembelajaran produktif.

Siswa tidak hanya memahami pentingnya pangan, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi dan pemanfaatannya.

Bupati Sanusi menegaskan, Pemkab Malang akan memperkuat dukungan lintas organisasi perangkat daerah agar program tersebut dapat berjalan berkelanjutan dan berkembang sesuai potensi masing-masing sekolah.

“Program swasembada pangan berbasis sekolah ini kita kunjungi, dan nanti semua dinas terkait akan berkolaborasi, seperti Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan dinas-dinas lainnya untuk mendukung suksesnya program ini,” ujar Sanusi saat meninjau budidaya pangan di SMP Negeri 2 Kepanjen.

Menurut Sanusi, sekolah dapat mengembangkan berbagai komoditas sesuai ketersediaan lahan dan kemampuan pengelolaannya. Mulai dari sayuran, padi, terong, hingga budidaya ikan air tawar seperti nila dan lele.

“Khususnya tanaman kebutuhan pangan seperti sayur, padi, terong, hingga budidaya ikan nila, lele, dan sejenisnya yang bisa dikembangkan di masing-masing sekolah,” imbuhnya.

Dukungan pemerintah daerah akan diwujudkan melalui penyediaan bibit dan pendampingan teknis dari perangkat daerah terkait.

Dengan pola kolaborasi tersebut, sekolah diharapkan mampu mengembangkan kegiatan produktif yang tidak berhenti pada praktik pembelajaran, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi lingkungan pendidikan.

Salah satu sekolah yang telah menjalankan program ini adalah SMP Negeri 2 Kepanjen. Sejak Mei 2026, budidaya pangan di sekolah tersebut terintegrasi dengan program lingkungan hidup Adiwiyata dan kegiatan rutin bertajuk “Jumat Bertanam”.

Berbagai komoditas, mulai dari sayuran, terong, hingga melon, dibudidayakan di lingkungan sekolah. Para siswa juga diperkenalkan dengan budidaya ikan air tawar sebagai bagian dari pembelajaran ketahanan pangan.

Hasil budidaya dapat dimanfaatkan untuk konsumsi bersama di lingkungan sekolah. Lebih dari sekadar menghasilkan panen, kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk memahami proses produksi pangan, mengenal sektor pertanian, serta belajar bertanggung jawab dan bekerja sama.

Pola pembelajaran tersebut sekaligus membuka peluang bagi sekolah untuk mengembangkan kegiatan kewirausahaan melalui pengolahan hasil panen menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Ketua Pembina YSPN Sudrajat mengapresiasi pelaksanaan program ketahanan pangan di sejumlah sekolah di Kepanjen. Ia menilai praktik budidaya telah berjalan baik dan mendapat respons positif dari para siswa.

“Nyatanya sekolah bisa melaksanakannya dengan baik, dan saya lihat antusiasme anak-anaknya juga bagus. Saya punya harapan besar. Saya sudah keliling ke mana-mana, Malang ini termasuk salah satu yang cukup menonjol. Ya, mudah-mudahan bisa bertahan terus,” kata Sudrajat seusai mengunjungi SD Negeri 4 Panggungrejo.

Menurutnya, pendidikan ketahanan pangan harus dimulai sejak dini dengan membangun pemahaman bahwa kebutuhan pangan tidak cukup hanya dipenuhi melalui konsumsi, tetapi juga membutuhkan kemampuan memproduksi.

“Pertama, bahwa terkait ketahanan pangan itu tidak sekadar makan, tapi harus juga menanam. Yang kedua, anak-anak harus juga sadar bahwa kalau negara dalam keadaan apa pun, makanan harus siap,” tegasnya.

Pandangan tersebut menempatkan sekolah sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun kesadaran pangan generasi muda. Melalui praktik langsung, siswa diharapkan memahami hubungan antara produksi pangan, kemandirian, dan kesiapan menghadapi berbagai situasi. (Red)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *