MALANGPOINT.COM | MALANG – Bupati Malang HM Sanusi menghadiri kegiatan Panen dan Tanam Tebu Serentak Program Bongkar Ratoon bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kamis (18/6).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan serentak yang juga dilaksanakan di tujuh kabupaten lain di Jawa Timur.
Bupati Malang menegaskan bahwa Kabupaten Malang menjadi salah satu sentra produksi tebu terbesar di Jawa Timur dengan luas areal mencapai 48.168,95 hektare dan total produksi sebesar 4,29 juta ton.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi modal penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mewujudkan swasembada gula nasional.
Sanusi menjelaskan, Program Bongkar Ratoon merupakan strategi peremajaan tanaman tebu untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen. Pada 2025, Kabupaten Malang memperoleh target Bongkar Ratoon seluas 7.500 hektare dengan realisasi mencapai 1.717,32 hektare.
Program tersebut didukung bantuan bibit tebu sebanyak 60 ribu mata tunas per hektare serta bantuan biaya Hari Orang Kerja (HOK) sebesar Rp4 juta per hektare.
Untuk tahun 2026, Kabupaten Malang kembali mendapatkan target yang sama, yakni 7.500 hektare. Hingga saat ini, usulan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) definitif telah mencapai 2.734,47 hektare yang berasal dari pabrik gula, koperasi, dan kelompok tani.
“Capaian ini menunjukkan sinergi yang kuat antara pemerintah, pabrik gula, koperasi, dan petani dalam meningkatkan produktivitas tebu sekaligus memperkokoh posisi Kabupaten Malang sebagai salah satu lumbung gula nasional,” ujar Sanusi.
Ia berharap kegiatan panen dan tanam serentak tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi momentum memperkuat ekosistem industri gula dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan benih, budidaya, pembiayaan, pengolahan, hingga pemasaran hasil produksi.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa Program Bongkar Ratoon yang dijalankan secara masif berpotensi meningkatkan produktivitas tebu secara signifikan. Ia mencontohkan keberhasilan petani di Kecamatan Gondanglegi yang pernah mencatat hasil panen hingga 250 ton per hektare.
Menurut Khofifah, peningkatan produktivitas tidak hanya ditentukan oleh kualitas bibit, tetapi juga didukung penerapan teknologi, proses penebangan yang tepat, serta pengelolaan penggilingan yang optimal.
“Target utama kita adalah mewujudkan swasembada gula konsumsi. Karena itu, seluruh rantai ekosistem pergulaan, mulai dari hulu hingga hilir, harus dijaga bersama, termasuk memastikan gula rafinasi tidak masuk ke pasar konsumsi sehingga tidak merugikan petani,” tegasnya. (red)















