Mahasiswa UB Diduga Bunuh Diri di Apartemen Suhat, Anggota DPRD Soroti Pentingnya Pendekatan Sosial dan Kesehatan Mental

  • Bagikan
Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Kartika, S.E., M.Pd,
banner 468x60

MALANGPOINT.COM | Kota Malang kembali diguncang kabar duka. Seorang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berinisial CLS (20), asal Jakarta, dilaporkan meninggal dunia setelah diduga melompat dari lantai 11 sebuah apartemen di kawasan Soekarno-Hatta (Suhat), Rabu (25/03/2026) sekitar pukul 00.15 WIB.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban diketahui berada di kamar nomor 51 sebelum kejadian. Aparat kepolisian dan pihak terkait langsung melakukan penanganan di lokasi serta mengumpulkan keterangan saksi guna memastikan kronologi peristiwa.

Peristiwa ini menambah daftar keprihatinan terhadap kondisi kesehatan mental di kalangan mahasiswa.

Menanggapi kejadian tersebut, Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan DPD Golkar Kota Malang sekaligus Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Kartika, S.E., M.Pd, menyampaikan belasungkawa mendalam serta menekankan pentingnya langkah preventif berbasis pendekatan sosial.

Menurut Kartika, kasus seperti ini tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan individu, melainkan juga sebagai tanggung jawab bersama antara keluarga, kampus, dan pemerintah daerah.

“Pendekatan sosial yang dibutuhkan adalah membangun ekosistem yang peduli dan responsif terhadap kesehatan mental mahasiswa. Jangan sampai mereka merasa sendiri ketika menghadapi tekanan akademik, ekonomi, maupun persoalan pribadi,” ujarnya.

Ia menambahkan, Komisi D DPRD Kota Malang yang membidangi kesejahteraan rakyat mendorong sinergi lintas sektor, khususnya dengan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan institusi pendidikan tinggi untuk memperkuat layanan konseling yang mudah diakses dan tidak berstigma.

Kartika juga mengusulkan sejumlah langkah konkret, di antaranya:

* Penguatan layanan konseling kampus dengan tenaga profesional yang proaktif menjangkau mahasiswa.
* Program edukasi kesehatan mental sejak awal masa perkuliahan, termasuk pelatihan manajemen stres dan problem solving.
* Pembentukan komunitas peer support atau teman sebaya sebagai ruang aman untuk berbagi.
* Kolaborasi dengan orang tua melalui sistem pelaporan berkala terkait kondisi mahasiswa.
* Penyediaan hotline krisis yang aktif 24 jam di tingkat kota.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun budaya komunikasi terbuka di lingkungan kampus dan keluarga. “Mahasiswa perlu didorong untuk berani mencari bantuan. Kita harus menghilangkan stigma bahwa meminta pertolongan adalah tanda kelemahan,” tegasnya.

Sebagai himbauan, Kartika mengajak seluruh mahasiswa untuk lebih bijak dalam menghadapi persoalan hidup. Ia mengingatkan bahwa setiap masalah memiliki jalan keluar dan tidak perlu dihadapi sendirian.

“Jangan mengambil keputusan dalam kondisi emosi yang tidak stabil. Carilah bantuan, baik kepada teman, keluarga, dosen, maupun tenaga profesional. Hidup ini sangat berharga dan selalu ada harapan,” pesannya.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental, khususnya di kalangan generasi muda, agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *